Oleh Redaksi
Zikir-Zikir di Saat Sujud Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam dalam sujudnya didapatkan membaca beragam zikir dan doa.
Sekali waktu beliau membaca satu macam zikir, dan di waktu lain membaca zikir
yang lain lagi. Di antara zikir sujud, ada yang sama dengan zikir di saat
ruku’, karenanya bila ada kesamaan kami tidak artikan dan Pembaca bisa melihat
artinya pada pembahasan zikir-zikir ruku’ yang telah lalu berikut keterangan
haditsnya.
Bacaan atau zikir ketika sujud yang biasa dibaca oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai berikut :
1. Bacaan:
سُبْحَانَ
رَبِّيَ الْأَعْلَى
“Mahasuci
Rabbku Yang Maha Tinggi.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
mengulangi membaca zikir di atas sebanyak 3 kali, namun terkadang beliau ulangi
lebih dari itu, hingga suatu kali di saat shalat malam beliau mengulanginya
beberapa kali.
Disebutkan sujud beliau ketika itu hampir mendekati
masa berdiri beliau, padahal saat berdiri beliau membaca tiga surat yang
panjang, yaitu al-Baqarah, an-Nisa’, dan Ali ‘Imran, dengan diselang-selingi
doa dan istighfar. (Dari hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu,
diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 1811)
2. Bacaan:
سُبْحَانَ
رَبِّيَ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ
“Maha suci
Rabbku Yang Maha tinggi dan pujian bagi-Nya.” (3 kali)
3.
Bacaan:
سُبُّوْحٌ،
قُدُّوْسٌ، رَبُّ الْمَلآئِكَةِ وَالرُّوْحِ
4. Bacaan:
سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْلِي
5. Bacaan:
سُبْحَانَ
ذِيْ الْجَبَرُوْتِ، وَالْمَلَكُوْتِ، وَالْكِبْرِيَاءِ، وَالْعَظَمَةِ 1
6. Bacaan:
اللَّهُمَّ
لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، [وَأَنْتَ رَبِّي ]، سَجَدَ
وَجْهِيْ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَ صَوَّرَهُ، [فَأَحْسَنَ صُوَرَهُ]، وَشَقَّ
سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ
“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku sujud, hanya kepada-Mu
aku beriman, dan hanya kepada-Mu aku berserah diri. Engkau adalah Rabbku. Telah
sujud wajah ku kepada Dzat yang telah menciptakannya dan membentuknya, lalu Dia
baguskan rupanya dan Dia membelah pendengaran dan penglihatannya. Mahasuci
Allah sebaik-baik Pencipta.”
Dari hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Tambahan
yang pertama yaitu lafadz وَأَنْتَ رَبِّي
dikeluarkan oleh ath-Thahawi (137/1) dan at-Tirmidzi no. 3423 serta
ad-Daraquthni (30). Al-Imam Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan
at-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan sahih. Tambahan kedua dari salah satu
riwayat Muslim.
7. Bacaan:
اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِي ذَنْبي كُلَّهُ، دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ،
وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ
“Ya Allah, ampunilah dosaku seluruhnya, yang
kecil/sedikit dan yang besar/banyak, yang awalnya dan yang akhirnya, yang
terang-terangan dan yang rahasia/tersembunyi.”2
(Dari
hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan al-Imam Muslim
no. 1084)
8. Bacaan:
سُبْحَانَكَ
اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ
“Mahasuci
Engkau, ya Allah, dan dengan pujian untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak
untuk dibadahi kecuali Engkau.”
Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan, tatkala
ia kehilangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di suatu malam
dari tempat tidurnya, dia menyangka beliau pergi keluar. Mulailah Aisyah
meraba-raba dalam kegelapan, ternyata didapatinya Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam sedang ruku atau sujud dan membaca zikir di atas. (HR.
Muslim no. 1089)
9. Bacaan:
اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِي مَا أَسْرَرْتُ، وَمَا أَعْلَنْتُ
“Ya Allah, ampunilah aku, apa yang aku rahasiakan dan
apa yang aku tampakkan (dari kejelekan/dosa).”
(Dari
hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha juga, diriwayatkan oleh an-Nasa’i no.
1124, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan an-Nasa’i)
10. Bacaan:
اللَّهُمَّ
اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُوْرًا، وَفِي لِسَانِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي
نُورًا، وَاجْعَلْ فِي بَصَرِيْ نُوْرًا، وَاجْعَلْ مِنْ تَحْتِي نُوْرًا،
وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُوْرًا، وَعَنْ يَمِيْنِي نُوْرًا، وَعَنْ يَسَارِي
نُوْرًا، وَاجْعَلْ أَمَامِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ خَلْفِي نُوْرًا، وَاجْعَلْ فِي
نَفْسِيْ نُوْرًا، وَأَعْظِمْ لِي نُوْرًا
“Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, cahaya
dalam lisanku. Jadikanlah cahaya dalam pendengaranku. Jadikanlah cahaya pada
penglihatanku. Jadikanlah cahaya dari bawahku. Jadikanlah cahaya dari atasku,
demikian pula cahaya dari kananku dan dari kiriku. Jadikan pula cahaya di depan
dan di belakangku. Jadikan pula cahaya pada jiwaku, dan besarkanlah cahaya
untukku.”
(Hadits
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Tatkala ia bermalam di rumah bibinya,
Maimunah bintu al-Harits radhiyallahu ‘anha di saat giliran Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam di rumahnya. Ibnu Abbas melihat Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam bangkit untuk menunaikan hajatnya. Setelahnya beliau
berwudhu seperti wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mengerjakan shalat dan di
sujudnya beliau membaca zikir tersebut. Diriwayatkan oleh Muslim no. 1791 dan
an-Nasa’i no. 1121).
Namun, riwayat yang lain menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam mengucapkan zikir yang hampir sama dengan zikir di atas
setelah selesai shalat yakni saat berdoa seperti dalam riwayat Muslim no. 1796,
sehingga terkadang beliau melakukan yang ini (membacanya dalam sujud), di kali
lain yang itu (saat berdoa setelah shalat lail).
11. Bacaan:
“Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dengan
keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu. Aku berlindung dengan pemaafan-Mu dari
hukuman-Mu. Aku berlindung dengan-Mu dari-Mu. Aku tidak dapat menghitung pujian
atas-Mu, Engkau sebagaimana yang Engkau puji diri-Mu.” (Hadits Aisyah radhiyallahu
‘anha, diriwayatkan oleh al-Imam Muslim no. 1090)
Larangan
Membaca al-Qur’an saat Sujud
Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
ألآ ،
وَإِنِّي نُهِيْتُ أَن أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدً ا، فَأَمَّا
الرُّكُوْعُ فَعَظِّمُوْا فِيْهِ الرَّبَّ عز و جل وَأَمَّا السُّجُوْدُ
فَاجْتَهِدُوْا فِيهِ الدُّعَاءَ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ
“Sungguh, aku dilarang untuk membaca al-Qur’an
ketika ruku’ dan sujud. Adapun ketika ruku’ maka agungkanlah Rabb di dalamnya.
Adapun saat sujud, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa karena pantas doa kalian
dikabulkan.” (HR. Muslim no. 1074 dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
Di saat sujud, diperintahkan bersungguh-sungguh dalam
berdoa dan memperbanyaknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan,
أَقْرَبُ مَا
يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَ هُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ فِيْهِ
“Sedekat-dekatnya hamba dengan Rabbnya adalah di
saat si hamba sedang sujud, maka perbanyaklah doa di dalam sujud.” (HR.
Muslim no. 1083 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat dilarang membaca
al-Qur’an di saat sujud berdasar hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma
di atas. Namun sebagian ulama lain berpandangan bolehnya membaca al-Qur’an. Ini
adalah pendapat al-Imam al-Bukhari rahimahullah dan yang
lainnya
karena hadits di atas tidak sahih menurut mereka.
Namun, yang benar adalah sebagaimana yang kami
katakan, dilarangnya membaca al-Qur’an di
saat sujud karena hadits tersebut sahih sebagaimana
diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya dan
hadits ini dinyatakan sahih juga oleh al-Imam ath-Thabari rahimahullah
dan yang lainnya. (Bidayatul Mujtahid, hlm. 122)
Hikmah Larangan Membaca al-Qur’an Saat Sujud
Seseorang yang shalat dilarang membaca al-Qur’an di
saat ruku’ dan sujud karena posisi ruku’ dan sujud mengharuskan seseorang
merunduk, menyungkurkan punggung dan telungkup, tentunya al-Qur’an tidak
sepantasnya dibaca dalam keadaan seperti ini.
Bandingkan
saja bila Anda bicara kepada seseorang dalam posisi Anda ruku’ atau sujud, atau
Anda bicara dalam posisi berdiri, manakah yang lebih menunjukkan penghormatan
kepada yang
diajak bicara? Tentunya bila Anda bicara sambil
berdiri. Adapun bila Anda bicara kepada orang lain dalam keadaan Anda ruku’
niscaya orang yang diajak bicara akan berkata, “Orang ini cuek padaku. Ia tidak
menaruh perhatian kepadaku.”
Apabila ada orang ingin berbicara tentang seorang alim
dan ia berkata, “Wahai orang-orang, kemarilah kalian… Aku hendak menceritakan
kepada kalian tentang alim Fulan.” Ketika orang-orang sudah berkumpul, ia pun
ruku’ atau sujud, dan bercerita kepada manusia dalam posisi demikian, tentunya
hal ini tidak pantas. Karena itulah, ulama berkata, “Karena al-Qur’anul Karim
itu memiliki kedudukan yang agung, maka sepantasnya ia dibaca (dalam shalat)
saat posisi orang yang shalat tinggi, yaitu ketika berdiri.” (Fathu Dzil
Jalali wal Ikram bi Syarhi Bulughil Maram, 3/416-417)
Hukum Shalat
Orang yang Membaca al-Qur’an saat Ruku’ atau Sujud
Mayoritas ulama berpendapat shalatnya sah, karena
membaca al-Qur’an dilarang dalam ruku’ dan sujud bukan karena al-Qur’annya
sebagai sesuatu yang tidak boleh dibaca dalam shalat, namun dilarang karena
kedudukan, ketinggian, dan keagungan al-Qur’an tidak pantas dibaca dalam posisi
menunduk. Adapun al-Qur’an sendiri adalah ucapan yang disyariatkan dalam shalat
dan termasuk zikir-zikir yang masyru’. (al-Fiqhul Islami wa ‘Adillatuhu,
2/961)
Adapun pendapat yang lainnya yang merupakan pendapat
al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah, shalat yang dikerjakan tersebut
batal karena orang yang shalat itu telah mengucapkan ucapan yang dilarang,
sebagaimana bila seseorang berbicara dalam shalat dengan ucapan manusia. (al-Muhalla
2/361; Nailul Authar 2/108)
Bolehnya
Berdoa dalam Sujud dengan Doa yang Ada dalam al-Qur’an
Seperti
ketika sujud seseorang membaca doa,
رَبَّنَا
غْفِرْلَنَا ذُنُوْ بَنَا وَاِسْرَافَنَا فِى اَمْرِنَ وَثَبِّتْ اَقْدَامَنَا
وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
“Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan
tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, kokohkanlah telapak-telapak
kaki kami (tetapkanlah pendirian kami) dan tolonglah kami dari orang-orang
kafir.” (Ali Imran: 147)
atau berdoa,
رَبَّنَآاٰتِنَا
فِى الدُّنْيَاحَسَنَةً وَفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَا بَ النَّارِ
“Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan
di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungi kami dari azab neraka.”
(al-Baqarah: 201)
Hal ini dibolehkan karena yang mengucapkannya tidak
bersengaja untuk membaca al-Qur’an, tapi ia bermaksud berdoa dengan doa yang
ada dalam al-Qur’an, maka doa yang dibacanya termasuk zikir. (asy-Syarhul
Mumti’, 3/133)
Ditulis oleh
Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim
———————————————————————-
- Untuk
keterangan hadits zikir no. 1-5, dan arti zikir no. 3-5, bisa dilihat
dalam pembahasan zikir-zikir ruku’ yang telah lalu dalam edisi-edisi
Asy-Syariah terdahulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar