Senin, 03 Agustus 2020

MEMPERSILAKAN TETANGGA MEMASANG KAYU PADA TEMBOK RUMAHNYA

📚 MEMPERSILAKAN TETANGGA MEMASANG KAYU PADA TEMBOK RUMAHNYA

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَمْنَعَنَّ أَحَدُكُمْ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبةً فِيْ جِدَارِهِ

“Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian menghalangi tetangganya untuk memasang kayu  di temboknya.” (HR. al-Bukhari no. 3463 dan Muslim no. 1609 dalam Shahih keduanya)

Makna hadits ini diterangkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah,

“Jika tetanggamu hendak mengatapi rumahnya dan (dia perlu) meletakkan kayu pada tembokmu, tidak boleh bagimu melarangnya. Sebab, (keberadaan) kayu tersebut tidak membahayakan, bahkan akan memperkuat (tembok) dan mencegah aliran air dengannya. Terlebih (konstruksi) bangunan tempo dahulu, rumah-rumah dibangun dengan tanah yang dipadatkan. Keberadaan kayu justru akan mencegah mengalirnya air hujan pada tembok….”

Permasalahan memasang kayu serupa dengan keputusan Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu ketika terjadi sengketa antara Muhammad bin Maslamah radhiallahu anhu dan tetangganya.

Ketika itu (Muhammad bin Maslamah radhiallahu anhu) bermaksud mengalirkan air menuju kebunnya. Akan tetapi, terhalangi kebun tetangganya (sehingga air tidak mungkin dialirkan kecuali harus melewati kebun tersebut). Tetangga Muhammad bin Maslamah radhiallahu anhu (bersikeras) menghalanginya untuk membuat aliran di atas tanah kebun miliknya.

Keduanya mengangkat permasalahan kepada Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu.

Umar berkata, “Demi Allah, jika engkau menghalangi, aku akan mengalirkan air melalui perutmu, dan aku perintahkan dia untuk mengalirkan air.”

(Keputusan ini diambil) karena mengalirkan air melalui tanah kebun tidaklah merugikan. Bahkan, kebun yang dilaluinya akan mendapat manfaat dengan aliran tersebut. Terkecuali jika memang si pemilik kebun hendak membangun bangunan di atas tanahnya dan tidak memungkinkan untuk mengalirkan air di atasnya. Tidak mengapa dia melarangnya.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 2/179—180)

🖥 Simak selengkapnya: https://asysyariah.com/meraih-ridha-allah-dan-cintanya-dalam-hidup-bertetangga/

📲 https://t.me/asysyariah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar